Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej

Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej


Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej ❴EPUB❵ ✴ Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej Author Hersri Setiawan – Capitalsoftworks.co.uk Francisca C Fanggidaej sekarang tinggal di Zeist, sebuah kota kecil di provinsi Utrecht, Belanda Di usia tuanya, ia pun masih mengikuti perkembangan situasi dan kondisi politik di Indonesia Semua hidu Francisca C Revolusioner, Francisca PDF/EPUB è Fanggidaej sekarang tinggal di Zeist, sebuah kota kecil di provinsi Utrecht, Belanda Di usia tuanya, ia pun masih mengikuti perkembangan situasi dan kondisi politik di Indonesia Semua hidup dan perjuangannya Memoar Perempuan Epub / sampai tahun , ia tuangkan dalam buku Memoar ini dalam gaya bertutur yang lancar dan linear Buku Memoar ini tentu adalah persembahan yang sangat berharga bagi rakyat Indonesia yang sedang berjuang melawan serangan Perempuan Revolusioner, Francisca PDF Î neoliberalisme Karenanya buku ini tentu layak dibaca sebagai cermin dan semangat terus berjuang menegakkan harkat, terlebih oleh kaum perempuan Indonesia yang terancam semakin disingkirkan dari ruang public dan politik Bagi Sisca, tentu memoar ini belum mewakili seluruh hidupnya Cerita dan kenangan kenangan lain belum terungkapkan Mungkin biarlah sejarawan yang menjawabnya.

    Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej ini belum mewakili seluruh hidupnya Cerita dan kenangan kenangan lain belum terungkapkan Mungkin biarlah sejarawan yang menjawabnya."/>
  • Paperback
  • 209 pages
  • Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej
  • Hersri Setiawan
  • 19 February 2019

About the Author: Hersri Setiawan

Hersri Setiawan Revolusioner, Francisca PDF/EPUB è lahir di Yogyakarta, Mei umur tahun adalah seorang sastrawan Indonesia yang pernah lama ditahan di Pulau Buru karena keterlibatannya dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat Lekra pada tahun Memoar Perempuan Epub / anIa belajar sosiologi di Universitas Gadjah Mada dan Akademi Seni Drama dan Film di Yogyakarta Sejak di bangku kuliah ia sudah aktif dalam penerbitan pers dan kebudayaan Ia kemudian menjadi aktivis Front Nasional Perempuan Revolusioner, Francisca PDF Î dan Lekra, dan menjadi Ketua Lekra cabang Jawa TengahPada ia diangkat menjadi wakil Indonesia dalam organisasi Persatuan Pengarang Asia Afrika dan ditempatkan di pusat organisasi itu di Kolombo, Sri Lanka Karena pergolakan politik yang disebabkan oleh pergantian rezim di negara itu, pada bulan Agustus Hersri kembali ke Indonesia Namun di negara kelahirannya itu, ia menghadapi pergolakan yang jauh lebih hebat, yaitu peristiwa GS yang terjadi sebulan setelah ia kembali ke IndonesiaKarena organisasinya dianggap terkait dengan Partai Komunis Indonesia, Hersri pun dianggap tersangkut dalam GS, dan karenanya ditangkap dan menjadi tahanan politik Orde Baru Ia ditahan berpindah pindah dari RTC Rumah Tahanan Chusus Salemba, ke penjara Tangerang, lalu mendekam di Pulau Buru selama sembilan tahun Selepas dari Buru, ia bekerja sebagai penulis, editor dan penerjemah Namun karena menyandang stigma eks tapol, pada masa Orde Baru karya karyanya seringkali muncul tanpa nama atau dengan menggunakan nama samaranIa pernah menjadi penyunting untuk Ensiklopedia Indonesia sebanyak jilid yang diterbitkan oleh PT Ikhtiar Baru Van HoeveAntara dan Hersri tinggal di pengasingan di Belanda Pada tahun , Hersri pulang ke tanah air dan kini tinggal di Jakarta dan Yogyakarta.



10 thoughts on “Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej

  1. A.J. Susmana A.J. Susmana says:

    Dari Belanda Hitam menjadi Perempuan RevolusionerAJ SusmanaDi antara nama nama pejuang perempuan yang memenuhi panggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, barangkali nama Francisca C Fanggidaej tak begitu dikenal Hampir tak ada literatur yang mengulas hidup dan perjuangannya Namanya tenggelam bersamaan dengan hancurnya Partai Komunis Indonesia PKI pasca Peristiwa G 30 S 1965 Walau begitu namanya justru tercatat dalam buku peringatan Konfrensi Kalkuta yang sangat bersejarah Dalam Dari Belanda Hitam menjadi Perempuan RevolusionerAJ SusmanaDi antara nama nama pejuang perempuan yang memenuhi panggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, barangkali nama Francisca C Fanggidaej tak begitu dikenal Hampir tak ada literatur yang mengulas hidup dan perjuangannya Namanya tenggelam bersamaan dengan hancurnya Partai Komunis Indonesia PKI pasca Peristiwa G 30 S 1965 Walau begitu namanya justru tercatat dalam buku peringatan Konfrensi Kalkuta yang sangat bersejarah Dalam konfrensi itu, sebagaimana dicatat Ita Fatia Nadia Francisca C Fanggidaej yang juga akrab dipanggil Sisca, berpidato untuk memberitahukan kepada dunia International tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia Konfrensi Kalkuta sendiri merupakan konfrensi pemuda dari negara negara terjajah yang sedang memperjuangkan kemerdekaan yang diselenggarakan di kota Kalkuta, India pada 1948 dan embrio dari konfrensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 h 9 Saya sendiri baru mengenal namanya sekitar tahun 1999 via esai memoar yang dia tulis menyambut Indonesia yang sedang merayakan tahun emas kemerdekaannya Pada momentum ini, Sisca menulis esai yang menggugah dan memberanikan tentang ingatannya terhadap perjuangan di sekitar kemerdekaan Indonesia berjudul Sekelumit Pengalaman Pada Masa Revolusi Agustus 1945 1949 Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 50 tahun lalu dengan nama F.C Fanggidaej Esai memoar ini diambil dari internet yang kala itu masih langka dan tampaknya sudah tersebar luas di kalangan aktivis pro demokrasi Sejak itu nama Fanggidaej tak terlupakan Dalam esai ini, Sisca mengajukan gambaran rakyat Indonesia yang miskin dan sengsara serta pertanyaan yang dilematis Pada 17 Agustus 1995 ini kita peringati ulang tahun ke 50 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Dengan Republik Indonesia yang didirikan sebagai hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 itu rakyat Indonesia membentuk negaranya yang merdeka, menegaskan identitasnya sebagai bangsa yang bebas dari kolonialisme Tujuan dan cita cita Republik Indonesia Proklamasi adalah untuk mengangkat, terutama mayoritas rakyat yang sengsara dari lembah kemiskinan ke kehidupan yang lebih baik dan layak, punya rumah dan cukup makan, di mana semua orang dihargai dan dihormati Untuk memperjuangkan semuanya itu orang harus ada hak hak politik dan demokrasi Di Indonesia Orde Baru, hak untuk mengorganisasi diri dengan bebas, untuk mengeluarkan pendapat dan kritik dengan bebas secara lisan dan tertulis, tak mungkin direalisasi karena sistem kekuasaan yang represif yang telah dibangun dengan intensif selama 30 tahun terakhir ini Pada awal Orde Baru satu juta orang Indonesia tak bersalah dibunuh dan ratusan ribu lainnya dilempar ke dalam penjara dan kamp konsentrasi dalam satu tragedi nasional yang dampaknya sampai hari ini belum teratasi Dalam keadaan demikian perlukah Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke 50 diperingati Dengan pertanyaan ini di hati dan di kepala, saya menukik ke masa lampau, 50 tahun yang lalu ketika saya sebagai pemuda berumur duapuluhan, dengan antusiasme yang menyala nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan diri ke dalam kancah gejolak dan pergolakan revolusi di Surabaya Kesimpulan bagi Siscapun jelas Ya Perlu Kita tidak boleh lupa pengorbanan yang begitu besar yang sudah diberikan oleh berbagai generasi pejuang demi mewujudkan cita cita Proklamasi, yaitu suatu masyarakat Indonesia yang sungguh bebas, demokratik dan berkeadilan sosial Kita masih jauh dari perwujudannya Maka perjuangan itu masih berlanjut pada hari kini dan di masa depan Pada hari ini harapan kita tak lain bahwa generasi muda yang kini berjuang untuk cita cita itu mengambil semangat dan jiwa dari generasi kami yang pada Revolusi Agustus itu bergerak, dan agar mereka terus bekerja dengan cara mereka sendiri, di dalam kondisi nasional dan internasional yang sudah banyak berubah, dan akhirnya mencapai tujuannya Francisca C Fanggidaej dilahirkan di Pulau Timor pada 16 Agustus 1925 dan dibesarkan dalam keluarga yang menjadi produk politik penjajahan Belanda Ayahnya bernama Gottlieb, berasal dari Roti, dikenal sebagai Belanda Hitam sedang ibunya Magda Mael berasal dari Timor Bahasa utama dalam keluarga adalah bahasa Belanda yang membuat Sisca lebih fasih berbahasa Belanda daripada Indonesia Semula ia bergabung dalam kelompok diskusi di kalangan intelektual muda Maluku di Surabaya di bawah kepemimpinan Gerit Siwabessy dan Dr Latumenten Dari group ini, ia dikirim ke Yogyakarta untuk menghadiri Kongres Pemuda di Yogyakarta pada November 1945 yang menghasilkan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia BKPRI yang mempunyai dua dewan Dewan Perjuangan, dan Dewan Pembangunan Di dalam Kongres itu lahir juga PESINDO Pemuda Sosialis Indonesia yang merupakan fusi dari 7 organisasi pemuda yang bercita cita sosialisme PESINDO sendiri mempunyai kekuatan bersenjata yang setanding dengan kekuatan TRI ketika itu Memiliki kekuatan darat dan artileri, Pesindo Laut di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, begitu juga kesatuan putri yang terdiri dari pasukan tempur, kesatuan pengintai dan Palang Merah Di Pesindo inilah, Sisca mengalami pahit getir perjuangan mulai dari mewakili Pesindo di berbagai pertemuan internasional sampai pengejaran tentara Siliwangi ketika Peristiwa Madiun meletus Bersama rombongan Amir Syarifuddin, Sisca harus berjalan jauh di malam hari melewati hutan hutan dan desa desa di Jawa Timur untuk menghindari pertemuan dengan tentara Siliwangi sementara ia sendiri dalam kondisi hamil Dalam situasi ini ia pun dapat memetik pelajaran dari Amir Syarifuddin yang ia segani mengenai taktik menjalankan perang rakyat h.144 Peristiwa Madiun sendiri memakan korban di samping pimpinan teras seperti Amir Syarifuddin, juga suaminya, Karno Sisca tertangkap tapi tak dieksekusi barangkali karena kehamilannya.Pasca Peristiwa Madiun Sisca pun memimpin Pesindo Pada kongres Pesindo tahun 1950, Pesindo dinyatakan bukan lagi sebagai organisasi pemuda sosialis tetapi organisasi pemuda rakyat Ia bersama Ir Setiadi ditunjuk untuk memimpin organisasi pemuda rakyat Karena merasa sudah terlalu tua dan tak cocok lagi berkiprah di organisasi pemuda, ia bersama Ir Setiadi pun mengundurkan diri dari Pemuda Rakyat yang kemudian diteruskan Sukatno Sisca lantas aktif di bidang kewartawanan dan memimpin INPS Indonesian National Press Service sambil terus bekerja sebagai free lance untuk Kantor Berita Antara Pada tahun 1964, selaku anggota Komisi Luar Negeri DPR GR ia menghadiri konfrensi Asia Afrika III di Aljazair sebagai anggota rombongan penasihat Presiden Sukarno Konfrensi ini gagal karena tiba tiba terjadi kudeta Boumediene Sisca lantas diberi tugas lain dari Komite Perdamaian di tanah air yaitu menuju Helsinki untuk menghadiri konfrensi perdamaian sedunia tahun 1965 Sesudah itu ia lama tak kembali dan namanya nyaris tak terdengar G 30 S meletus yang memaksanya menjalani hidup di negeri orang bertahun tahun Francisca C Fanggidaej sekarang tinggal di Zeist, sebuah kota kecil di provinsi Utrecht, Belanda Di usia tuanya, ia pun masih mengikuti perkembangan situasi dan kondisi politik di Indonesia Semua hidup dan perjuangannya sampai tahun 1965, ia tuangkan dalam buku Memoar ini dalam gaya bertutur yang lancar dan linear Buku Memoar ini tentu adalah persembahan yang sangat berharga bagi rakyat Indonesia yang sedang berjuang melawan serangan neoliberalisme Karenanya buku ini tentu layak dibaca sebagai cermin dan semangat terus berjuang menegakkan harkat, terlebih oleh kaum perempuan Indonesia yang terancam semakin disingkirkan dari ruang public dan politik Bagi Sisca, tentu memoar ini belum mewakili seluruh hidupnya Cerita dan kenangan kenangan lain belum terungkapkan Mungkin biarlah sejarawan yang menjawabnya

  2. Audhe Audhe says:

    My fav book so far Memberikan pandangan baru tentang kemerdekaan dan kejadian sebelum indonesia merdeka meskipun tidak merdeka sepenuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 thoughts on “Memoar Perempuan Revolusioner, Francisca C. Fanggidaej

  1. A.J. Susmana A.J. Susmana says:

    Dari Belanda Hitam menjadi Perempuan RevolusionerAJ SusmanaDi antara nama nama pejuang perempuan yang memenuhi panggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, barangkali nama Francisca C Fanggidaej tak begitu dikenal Hampir tak ada literatur yang mengulas hidup dan perjuangannya Namanya tenggelam bersamaan dengan hancurnya Partai Komunis Indonesia PKI pasca Peristiwa G 30 S 1965 Walau begitu namanya justru tercatat dalam buku peringatan Konfrensi Kalkuta yang sangat bersejarah Dalam Dari Belanda Hitam menjadi Perempuan RevolusionerAJ SusmanaDi antara nama nama pejuang perempuan yang memenuhi panggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, barangkali nama Francisca C Fanggidaej tak begitu dikenal Hampir tak ada literatur yang mengulas hidup dan perjuangannya Namanya tenggelam bersamaan dengan hancurnya Partai Komunis Indonesia PKI pasca Peristiwa G 30 S 1965 Walau begitu namanya justru tercatat dalam buku peringatan Konfrensi Kalkuta yang sangat bersejarah Dalam konfrensi itu, sebagaimana dicatat Ita Fatia Nadia Francisca C Fanggidaej yang juga akrab dipanggil Sisca, berpidato untuk memberitahukan kepada dunia International tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia Konfrensi Kalkuta sendiri merupakan konfrensi pemuda dari negara negara terjajah yang sedang memperjuangkan kemerdekaan yang diselenggarakan di kota Kalkuta, India pada 1948 dan embrio dari konfrensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 h 9 Saya sendiri baru mengenal namanya sekitar tahun 1999 via esai memoar yang dia tulis menyambut Indonesia yang sedang merayakan tahun emas kemerdekaannya Pada momentum ini, Sisca menulis esai yang menggugah dan memberanikan tentang ingatannya terhadap perjuangan di sekitar kemerdekaan Indonesia berjudul Sekelumit Pengalaman Pada Masa Revolusi Agustus 1945 1949 Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 50 tahun lalu dengan nama F.C Fanggidaej Esai memoar ini diambil dari internet yang kala itu masih langka dan tampaknya sudah tersebar luas di kalangan aktivis pro demokrasi Sejak itu nama Fanggidaej tak terlupakan Dalam esai ini, Sisca mengajukan gambaran rakyat Indonesia yang miskin dan sengsara serta pertanyaan yang dilematis Pada 17 Agustus 1995 ini kita peringati ulang tahun ke 50 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Dengan Republik Indonesia yang didirikan sebagai hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 itu rakyat Indonesia membentuk negaranya yang merdeka, menegaskan identitasnya sebagai bangsa yang bebas dari kolonialisme Tujuan dan cita cita Republik Indonesia Proklamasi adalah untuk mengangkat, terutama mayoritas rakyat yang sengsara dari lembah kemiskinan ke kehidupan yang lebih baik dan layak, punya rumah dan cukup makan, di mana semua orang dihargai dan dihormati Untuk memperjuangkan semuanya itu orang harus ada hak hak politik dan demokrasi Di Indonesia Orde Baru, hak untuk mengorganisasi diri dengan bebas, untuk mengeluarkan pendapat dan kritik dengan bebas secara lisan dan tertulis, tak mungkin direalisasi karena sistem kekuasaan yang represif yang telah dibangun dengan intensif selama 30 tahun terakhir ini Pada awal Orde Baru satu juta orang Indonesia tak bersalah dibunuh dan ratusan ribu lainnya dilempar ke dalam penjara dan kamp konsentrasi dalam satu tragedi nasional yang dampaknya sampai hari ini belum teratasi Dalam keadaan demikian perlukah Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke 50 diperingati Dengan pertanyaan ini di hati dan di kepala, saya menukik ke masa lampau, 50 tahun yang lalu ketika saya sebagai pemuda berumur duapuluhan, dengan antusiasme yang menyala nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan diri ke dalam kancah gejolak dan pergolakan revolusi di Surabaya Kesimpulan bagi Siscapun jelas Ya Perlu Kita tidak boleh lupa pengorbanan yang begitu besar yang sudah diberikan oleh berbagai generasi pejuang demi mewujudkan cita cita Proklamasi, yaitu suatu masyarakat Indonesia yang sungguh bebas, demokratik dan berkeadilan sosial Kita masih jauh dari perwujudannya Maka perjuangan itu masih berlanjut pada hari kini dan di masa depan Pada hari ini harapan kita tak lain bahwa generasi muda yang kini berjuang untuk cita cita itu mengambil semangat dan jiwa dari generasi kami yang pada Revolusi Agustus itu bergerak, dan agar mereka terus bekerja dengan cara mereka sendiri, di dalam kondisi nasional dan internasional yang sudah banyak berubah, dan akhirnya mencapai tujuannya Francisca C Fanggidaej dilahirkan di Pulau Timor pada 16 Agustus 1925 dan dibesarkan dalam keluarga yang menjadi produk politik penjajahan Belanda Ayahnya bernama Gottlieb, berasal dari Roti, dikenal sebagai Belanda Hitam sedang ibunya Magda Mael berasal dari Timor Bahasa utama dalam keluarga adalah bahasa Belanda yang membuat Sisca lebih fasih berbahasa Belanda daripada Indonesia Semula ia bergabung dalam kelompok diskusi di kalangan intelektual muda Maluku di Surabaya di bawah kepemimpinan Gerit Siwabessy dan Dr Latumenten Dari group ini, ia dikirim ke Yogyakarta untuk menghadiri Kongres Pemuda di Yogyakarta pada November 1945 yang menghasilkan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia BKPRI yang mempunyai dua dewan Dewan Perjuangan, dan Dewan Pembangunan Di dalam Kongres itu lahir juga PESINDO Pemuda Sosialis Indonesia yang merupakan fusi dari 7 organisasi pemuda yang bercita cita sosialisme PESINDO sendiri mempunyai kekuatan bersenjata yang setanding dengan kekuatan TRI ketika itu Memiliki kekuatan darat dan artileri, Pesindo Laut di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, begitu juga kesatuan putri yang terdiri dari pasukan tempur, kesatuan pengintai dan Palang Merah Di Pesindo inilah, Sisca mengalami pahit getir perjuangan mulai dari mewakili Pesindo di berbagai pertemuan internasional sampai pengejaran tentara Siliwangi ketika Peristiwa Madiun meletus Bersama rombongan Amir Syarifuddin, Sisca harus berjalan jauh di malam hari melewati hutan hutan dan desa desa di Jawa Timur untuk menghindari pertemuan dengan tentara Siliwangi sementara ia sendiri dalam kondisi hamil Dalam situasi ini ia pun dapat memetik pelajaran dari Amir Syarifuddin yang ia segani mengenai taktik menjalankan perang rakyat h.144 Peristiwa Madiun sendiri memakan korban di samping pimpinan teras seperti Amir Syarifuddin, juga suaminya, Karno Sisca tertangkap tapi tak dieksekusi barangkali karena kehamilannya.Pasca Peristiwa Madiun Sisca pun memimpin Pesindo Pada kongres Pesindo tahun 1950, Pesindo dinyatakan bukan lagi sebagai organisasi pemuda sosialis tetapi organisasi pemuda rakyat Ia bersama Ir Setiadi ditunjuk untuk memimpin organisasi pemuda rakyat Karena merasa sudah terlalu tua dan tak cocok lagi berkiprah di organisasi pemuda, ia bersama Ir Setiadi pun mengundurkan diri dari Pemuda Rakyat yang kemudian diteruskan Sukatno Sisca lantas aktif di bidang kewartawanan dan memimpin INPS Indonesian National Press Service sambil terus bekerja sebagai free lance untuk Kantor Berita Antara Pada tahun 1964, selaku anggota Komisi Luar Negeri DPR GR ia menghadiri konfrensi Asia Afrika III di Aljazair sebagai anggota rombongan penasihat Presiden Sukarno Konfrensi ini gagal karena tiba tiba terjadi kudeta Boumediene Sisca lantas diberi tugas lain dari Komite Perdamaian di tanah air yaitu menuju Helsinki untuk menghadiri konfrensi perdamaian sedunia tahun 1965 Sesudah itu ia lama tak kembali dan namanya nyaris tak terdengar G 30 S meletus yang memaksanya menjalani hidup di negeri orang bertahun tahun Francisca C Fanggidaej sekarang tinggal di Zeist, sebuah kota kecil di provinsi Utrecht, Belanda Di usia tuanya, ia pun masih mengikuti perkembangan situasi dan kondisi politik di Indonesia Semua hidup dan perjuangannya sampai tahun 1965, ia tuangkan dalam buku Memoar ini dalam gaya bertutur yang lancar dan linear Buku Memoar ini tentu adalah persembahan yang sangat berharga bagi rakyat Indonesia yang sedang berjuang melawan serangan neoliberalisme Karenanya buku ini tentu layak dibaca sebagai cermin dan semangat terus berjuang menegakkan harkat, terlebih oleh kaum perempuan Indonesia yang terancam semakin disingkirkan dari ruang public dan politik Bagi Sisca, tentu memoar ini belum mewakili seluruh hidupnya Cerita dan kenangan kenangan lain belum terungkapkan Mungkin biarlah sejarawan yang menjawabnya

  2. Audhe Audhe says:

    My fav book so far Memberikan pandangan baru tentang kemerdekaan dan kejadian sebelum indonesia merdeka meskipun tidak merdeka sepenuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *